Home | Paroki | Informasi  | Galeri Foto | Renungan | Suara Umat

 
  SAGKI 2005
  KITAB SUCI

Kitab Wahyu 

 

 Mgr. Prof. Dr. I. Suharyo PR

Studi Alkitab   Baru

Yohanes Samiran. SCJ

  HOMILI

Kumpulan Homili

Anton de Britto, CM

Homili 

I. Sumarya, S.J

 

PESAN  BAPA SUCI 

PAUS  BENEDIKTUS XVI

  HARI DOA PANGGILAN SEDUNIA  KE-43

 7 Mei 2006

 

 PANGGILAN  DALAM MISTERI   GEREJA

 

Yang  Mulia  Para Uskup

Saudara-saudari, umat   beriman  yang terkasih.

 

Perayaan HARI DOA PANGGILAN SEDUNIA YANG KE- 43  ini  merupakan kesempatan bagiku untuk menghimbau seluruh Umat Allah agar merenungkan tema: ‘PANGGILAN DALAM MISTERI GEREJA’.

Rasul Paulus menulis,”Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus … Dalam Dia Ia telah memilih kita sebelum dunia dijadikan… dan menentukan kita menjadi anak-anak-Nya oleh Yesus Kristus” (Ef 1:3-5). Sebelum dunia dijadikan, sebelum kita lahir, Bapa surgawi telah memilih kita secara pribadi agar terjalin dengan Dia suatu hubungan sebagaimana dengan anak, melalui Yesus, Sabda yang menjelma menjadi manusia,  di bawah bimbingan Roh Kudus. Berkat wafat-Nya Yesus mengantar kita kedalam misteri kasih Allah. Kasih yang dikhususkan Bapa bagi Yesus, itulah kasih yang diteruksan pula kepada kita. Dengan demikian, bersatu dengan Yesus, Kepala, kita membentuk satu tubuh, yaitu: Gereja.

 

Beban sejarah selama 2000 tahun sejarah merupakan kendala untuk merasakan keagungan dan daya   misteri Allah yang mengangkat  kita menjadi anak-Nya. Misteri itu menjadi inti dari pewartaan rasul Paulus yang menulis,”Allah telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita …, yaitu rencana untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu”(Ef 1:9.10);  dan  dengan rasa syukur Paulus melanjutkan,”Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara”.(Rm 8:28-29). Penerobosan itu sungguh menarik hati: kita terpanggil untuk hidup sebagai saudara dan saudari Yesus, untuk hidup sebagai putra dan putri se- Bapa. Suatu anugerah yang membarui setiap pandangan dan sikap yang serba duniawi. Lalu apa yang harus dikatakan tentang godaan, yang sangat kuat pada masa ini, di mana orang merasa mandiri otonom lalu menutup diri  terhadap rencana Tuhan atas dirinya?  Kasih Allah yang diwahyukan melalui Yesus Kristus menantang kita.

 

Tidak perlu  bahwa  orang harus sudah sempurna untuk menanggapi panggilan Tuhan dan untuk mulai melangkah di jalan itu. Kita tahu bahwa kesadaran akan dosanya telah mendorong anak yang hilang kembali dan mengalami kebahagiaan pengampunan dari Bapa-nya. Kelemahan dan keterbatasan manusia tidak merupakan hambatan selagi membantu manusia menyadari bahwa ia membutuhkan rahmat penebusan Kristus. Dan itulah pengalaman rasul Paulus yang menyatakan,”Aku suka bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku” (2Kor 12:9)  Dalam misteri Gereja, tubuh mistik Kristus, kuasa kasih ilahi mampu mengubah hati manusia sehingga manusia yang telah mengalami kerahiman ilahi, mau meneruskannya kepada saudara-saudaranya. Dalam peredaran zaman  banyak laki-laki dan perempuan, yang hidupnya diubah oleh kasih ilahi, telah membaktikan diri seluruhnya  bagi kerajaan Allah. Mulai dari tepi danau Galilea, banyak orang  mengikuti Yesus. Mereka mencari kesembuahn  badan dan jiwa, dan  mereka disentuh oleh kuasa rahmat-Nya. Ada yang dipanggil oleh Yesus sendiri untuk dijadikan rasul-rasul-Nya. Kita temukan orang, seperti Maria dari Magdala dan perempuan-perempuan lain, yang mengikuti Yesus atas prakarsa  sendiri, hanya karena cinta, akan tetapi, seperti terjadi dengan rasul Yohanes, mereka mendapat  tempat istimewa dalam hati Yesus.

Semua laki-laki dan perempuan-perempuan itu menggambarkan keanekaragaman panggilan yang sejak awal hadir dalam Gereja. Model orang yang terpanggil untuk menjadi  saksi istimewa kasih Allah adalah Maria, Ibu Yesus. Maria, dalam perjalanan imannya, mengambil bagian dalam misteri penjelmaan Kristus dan dalam misteri penebusan umat manusia.

 

Dalam Kristus, Kepala Gereja, yang adalah tubuh-Nya, kaum beriman  dijadikan    “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia” (1Ptr 2,9).

Gereja adalah kudus, kendati anggota-anggotanya senantiasa harus dibersihkan dari dosa, agar kekudusan, anugerah dari Allah, dapat bersinar dalam mereka secara penuh. Konsili Vat II menegaskan bahwa semua orang terpanggil menjadi kudus, dan menyatakan bahwa,“Para pengikut Kristus dipanggil oleh Allah bukan berdasarkan perbuatan mereka, melainkan berdasarkan rencana dan rahmat-Nya. Mereka dibenarkan dalam Tuhan Yesus, dan dalam baptis iman sungguh-sungguh dijadikan ana-anak Allah dan ikut serta dalam kodrat ilahi, maka sungguh menjadi suci”(Lumen Gentium 40). Di dalam   panggilan universal itu, Kristus, Imam Agung,  karena cinta kasih-Nya bagi Gereja, senantiasa memanggil, dari setiap generasi, orang-orang yang mengasuh umat-Nya; secara khusus, Ia memanggil orang  yang ditahbiskan untuk memenuhi fungsi kebapaan, yang sumbernya adalah sikap kebapaan Allah sendiri (Ef 3:15). Tugas perutusan para imam dalam Gereja mutlak, tak dapat digantikan.  Jadi, kendati di daerah-daerah tertentu dialami kekurangan imam, sama sekali  tak boleh diragukan kepastian bahwa Kristus senantiasa membangkitkan orang-orang, seperti para rasul, setelah meninggalkan segala urusan lainnya, mereka mengabdikan diri secara utuh bagi perayaan misteri-misteri kudus, bagi pewartaaan Injil dan bagi pelayanan dan reksa kegembalaan. Dalam Anjuran Apostolik “Pastores dabo vobis”, pendahulu saya yang amat terpuji Yohanes Paulus II mengenai hal ini menulis,”Hubungan imam dengan Yesus Kristus, dan dalam Dia dengan Gereja-Nya, terdapat pada keberadaannya sebagai imam, berdasarkan pentahbisan secara sakramental, maupun dalam kegiatannya, artinya: dalam misi atau pelayanannya. Khususnya: imam sebagai pelayan mengabdi kepada Kristus yang hadir dalam Gereja sebagai misteri, persekutuan dan perutusan. Berdasarkan partisipasinya dalam “pengurapan” dan “perutusan” Kristus, imam dapat meneruskan doa Kristus, sabda-Nya, korban serta karya penyelamatan-Nya dalam Gereja. Begitulah imam menjadi hamba Gereja sebagai misteri, karena ia dengan nyata mewujudkan lambang-lambang sakramental Gereja, yang menandakan kehadiran Kristus yang bangkit.”(no.16)

 

Salah satu panggilan khusus lagi, yang mendapat tempat yang terhormat dalam Gereja adalah panggilan untuk Hidup Bakti. Seturut teladan Maria dari Betania, yang “duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya” (Lk 10:39), banyak laki-laki dan perempuan membaktikan diri hanya untuk mengikuti Kristus secara total dan exklusif. Memang mereka melakukan banyak pelayanan dalam bidang pembinaan manusia dan dalam bantuan kepada kaum miskin, dalam bidang pendidikan atau dalam perawatan orang sakit, namun mereka tidak menentukan semua karya itu sebagai tujuan utama hidupnya, sebab sebagaimana digarisbawahi oleh Kitab Hukum Kanonik ,” Kontemplasi perkara-perkara ilahi dan persatuan dengan Allah yang terus-menerus dalam doa hendaknya merupakan tugas pertama dan utama bagi semua biarawan” (KHK  663,1)

Dan dalam Anjuran Apostolik “Hidup Bakti” Paus Yoh Paulus II mencatat,”Dalam tradisi Gereja profesi religius dipandang sebagai pendalaman yang khas dan subur pengudusan yang diterima melalui Baptis, sejauh merupakan upaya bagi perkembangan persatuan erat dengan Kristus yang sudah mu!ai pada Baptis menjadi kurnia keserupaan yang lebih penuh, !ebih eksplisit dan otentik dengan Dia mela!ui pengikraran nasehat-nasehat Injil”.(no. 30)

 

Mengingat pesan Tuhan Yesus,” Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (Mat 9:37),   kita sungguh-sungguh merasakan kebutuhan untuk berdoa bagi panggilan,  Imamat dan Hidup Bakti. Tidak mengherankan bahwa di mana orang berdoa dengan penuh iman di situ pula panggilan-panggilan mekar dan berkembang. Kekudusan Gereja merupakan buah dari persatuan dengan Kristus dan dari keterbukaan kepada rahmat-Nya yang berkarya dalam hati kaum beriman. Justru karena itu  aku mengimbau seluruh kaum beriman untuk memelihara suatu hubungan yang mesra dengan Kristus, Guru dan Gembala umat-Nya, sesuai dengan teladan Bunda Maria yang “menyimpan segala misteri ilahi di dalam hatinya dan merenungkannya (Luk 2,19). Maka bersatu dengan Maria, yang mempunyai kedudukan sentral dalam Gereja, marilah kita berdoa:

 

Ya Bapa, bangkitkanlah dari tengah-tengah umat Kristiani,

banyak panggilan yang suci untuk imamat,

agar mengobarkan iman dalam umat,

mengenangkan dengan rasa syukur Putera-Mu Yesus Kristus

melalui pewartaan firman-Nya dan pelayanan sakramen-sakramen

melalui mana Engkau membarui senantiasa umat-Mu.

Berilah kami pelayan-pelayan altar yang suci,

yang suka memelihara Ekaristi dengan penuh perhatian dan dengan penuh iman

sebab dalam Ekaristi terwujudlah pernyataan tertinggi kasih Kristus

bagi penebusan dunia.

 

Panggillah pelayan-pelayan  kerahiman-Mu,

yang membagi kepada manusia kebahagiaan pengampunan ilahi

melalui sakramen rekonsiliasi.

 

Ya Bapa, berilah agar Gereja menyambut dengan sukacita

dorongan-dorongan Roh Putera-Mu,

hidup setia kepada ajaran-Nya dan memelihara panggilan-panggilan

untuk imamat dan  hidup bakti.

Teguhkanlah para uskup, imam, diakon, para anggota hidup bakti

dan semua orang  yang dibaptis dalam Kristus

agar menunaikan dengan setia tugas perutusan mereka dalam melayani Injil.

 Semua ini kami mohon dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Maria, ratu para rasul, doakanlah kami.

 

Dari Vatikan, 5 Maret 2006

 

ARAH DASAR KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG 2006

Umat Allah Keuskupan Agung Semarang dengan bimbingan Roh Kudus berupaya menjadi persekutuan paguyuban-paguyuban murid-murid Yesus Kristus yang mewujudkan Kerajaan Allah yang memerdekakan (bdk. Lukas 4:18-19).

Selengkapnya  
PESAN MENUJU PERTOBATAN

St. Paulus berpesan "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah (Rom12:2).

Selengkapnya  
   
PESAN BERSAMA KWI & PGI TAHUN 2005

"Janganlah takut sebab Aku menyertai engkau" (Yes, 41:10a)

Kepada segenap umat Kristiani Indonesia di mana pun berapa, dengan hati yang penuh syukur dan suka cita, umat Kristiani Indonesia merayakan Natal,

Selengkapnya  
   
MASTERPLAN  RENOVASI GEREJA ST YAKOBUS
Dewan Paroki Gereja St. Yakobus Bantul bekerja sama dengan LPM Universitas Atma Jaya Yogyakarta merencanakan pengembangan & renovasi komplek Gereja & Pasturan.
Selengkapnya  
SETIA DALAM HAL KECIL(RENUNGAN HARIAN)

Waktu saya masih di SMP saya bersahabat dengan seorang pastor tua yang baik hati. Dia mengajak saya menjadi misdinar (Dia juga yang menjadi inspirasi dan akhirnya membantu sayauntuk masuk seminari).

Selengkapnya  
TIDUR (RENUNGAN)
Semua orang melakukannya, dan ini merupakan bagian dari hidup. Syarat utama untuk mrmperoleh tidur yang nyenyak adalah hati nurani yang bersih dan lega, membebaskan diri dari segala kepahitan, kebencian dan kekuatiran.
Selengkapnya  
   

RAPAT KERJA DEWAN PAROKI DI SROWOLAN

Srowolan, 3 Desember 2005

Awal bulan Desember ini Dewan Paroki St Yakobus Bantul memasuki babak baru dalam penyusunan RAPB, sesuai dengan perwujudan habitus baru.

Selengkapnya  
   
TINDAK LANJUT SAGKI 2005

Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia 2005 di Wisma Kinasih, Caringin, Bogor 16-20 Nopember telah terlaksana. Peserta SAGKI yang terdiri dari para Uskup, Imam, Biarawan-Biarawati, dan Kaum Awam...

Selengkapnya  
 

Home | Paroki | Informasi  | Galeri Foto | Renungan | Suara Umat

Copyright 2005 KOMSOS ST. YAKOBUS BANTUL  E-mail : styakobus@yahoo.com

T O P