|
Home | Paroki | Informasi | Galeri Foto | Renungan | Suara Umat |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Tidur
Tidur. Semua orang melakukannya, dan ini merupakan bagian dari hidup. Tidur, adalah keadaan di mana badan dan kesadaran kita istirahat dengan memejamkan mata. Kalau tidur nyenyak, berarti tidur benar-benar sehingga sukar dibangunkan. Kalau tidur belum lelap, masih mendengar suara dan sebagainya, walaupun mata sudah terpejam. Berjuta-juta obat penenang dan pil tidur dihabiskan oleh orang setiap malam untuk merangsang / memperoleh tidur lelap. Padahal syarat utama untuk memperoleh tidur yang nyenyak adalah hati nurani yang bersih dan lega, mengaku dosa dan berpaling dari dosa dan kebiasaan berbuat dosa, dan membebaskan diri dari segala kepahitan, kebencian dan kekuatiran.
Maka Anda pun mampu melakukan ayat-ayat ini:
Pikirlah mulai sekarang juga kepada siapa Anda ingin mengabdi, karena Anda tidak dapat mengabdi kepada dua majikan sekaligus. Apabila Anda adalah anak Tuhan, maka bersandarlah kepada Tuhan, percayalah bahwa Tuhan akan memenuhi janji-Nya dan akan memberikan tidur yang nyenyak bagi mereka yang dikasihi-Nya, tidur dengan wajar. Oleh sebab itu, lakukanlah tugas Anda dengan cara merawat badan Anda dengan baik, memakan makanan yang sehat, hiruplah udara yang segar dan berolah ragalah. Jadi pendek kata tubuh yang sehat menunjang tidur yang nyenyak. Tuhan merancang dan menciptakan tubuh yang begitu mengagumkan sebagai tempat tinggal jiwa kita dengan Roh Kudus di dalam selama tubuh itu berada di atas muka bumi ini, dengan sendirinya Tuhan pasti menaruh minat besar terhadap kelangsungan tugas tubuh itu dengan sempurna sebagaimana mestinya, dan perawatannya secara seksama juga. "Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah Bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu?"... Tuhan memberkati....
TRUE STORY
Ada seorang bocah
kelas 4 SD di suatu daerah di Milaor Camarine Sur (Filipina) yang setiap hari
mengambil rute melintasi daerah tanah berbatuan dan menyeberangi jalan raya
yang berbahaya dimana banyak kendaraan yang melaju kencang dan tidak beraturan.
CARA-CARA MENCAPAI
KERENDAHAN HATI
UNTUK KEHIDUPAN
Menurut pendapat anda, apakah Isa adalah seorang...
Kunjungi setiap bagian dunia saat ini. Berbicaralah kepada orang-orang dari berbagai agama. Tidak peduli seberapa besar komitmen mereka pada agama mereka, jika dia tahu tentang sejarah, mereka akan mengakui bahwa tidak pernah ada seseorang seperti Isa dari Nazaret. Dia pribadi yang paling unik sepanjang zaman. Isa telah mengubah arah sejarah. Penanggalan yang kita pakai menyaksikan pada fakta bahwa Isa hidup di bumi ini 2000 tahun yang lalu. B.C. (Before Christ) berarti Sebelum Masehi dan sekarang disebut Tahun Masehi yang artinya "tahun Juru Selamat kita", yang dalam penanggalan internasional disebut A.D. (Anno Domini) yang artinya "Tahun Tuhan kita". KEDATANGAN-NYA TELAH DINUBUATKAN Ratusan tahun sebelum Isa lahir, Kitab Suci mencatat perkataan para nabi Israel yang memperkirakan kedatangan-Nya. Kitab Perjanjian Lama, yang ditulis oleh beberapa orang dalam kurun waktu 1500 tahun, berisi lebih dari 300 nubuatan yang memperinci kedatangan-Nya. Semuanya telah digenapi secara detail, termasuk kelahiran-Nya yang ajaib, hidup-Nya yang tanpa dosa, mujizat-mujizat-Nya, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. Kehidupan yang dijalani Isa, mujizat-mujizat yang dilakukan-Nya, perkataan yang diucapkan-Nya, kematian-Nya di kayu salib, kebangkitan-Nya, kenaikan-Nya ke Sorga - semuanya menunjukkan fakta bahwa Dia bukan manusia biasa, tetapi lebih dari pada manusia. Isa menyatakan, " Aku dan Bapa adalah satu." (Yohanes 10:30), "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa" (Yohanes 14:9), dan "Akulah jalan dan kebenaran, dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku." (Yohanes 14:6) HIDUP DAN PESAN-NYA MENYEBABKAN PERUBAHAN Perhatikan hidup dan
pengaruh Isa dari Nasaret, sang Mesias, di sepanjang sejarah dan anda akan
melihat bahwa Dia dan pesan-Nya selalu membuat perubahan dalam hidup manusia dan
bangsa-bangsa. Dimanapun ajaran dan pengaruh-Nya berada, perkawinan yang suci,
hak asasi wanita dan suara rakyat diakui; sekolah-sekolah tinggi dan
universitas-universitas telah didirikan; peraturan hukum untuk melindungi
anak-anak telah dibuat; dan banyak perubahan-perubahan lainya telah dibuat untuk
kebaikan umat manusia. TUHAN, PEMBOHONG, ATAU ORANG GILA? Di dalam bukunya yang
terkenal Mere Christianity (Tak Sekedar Kekristenan), Lewis membuat pernyataan,
"Seorang manusia biasa saja yang mengucapkan sebagian kecil dari apa yang
dikatakan oleh Isa, tidak akan menjadi seorang guru moral yang besar. Bisa jadi
dia adalah seorang gila - setaraf dengan seorang yang mengatakan dia adalah
sebuah telor rebus - atau dia adalah setan dari neraka. Anda harus mengambil
keputusan sendiri apakah Dia dulu dan sekarang adalah Anak Allah, atau seorang
gila atau yang lebih buruk dari itu. Anda dapat menganggap Dia adalah orang
bodoh atau anda dapat jatuh di bawah kaki-Nya dan memanggil Dia Tuhan dan Allah.
Oleh karena itu marilah kita tidak merendahkan Dia dengan memandang-Nya sekedar
sebagai seorang guru yang agung." PEMIMPIN YANG SUDAH BANGKIT Isa dari Nazaret disalibkan,
dikuburkan dalam sebuah makam pinjaman, dan tiga hari kemudian bangkit dari
kematian; Kekristenan adalah hal yang unik pada saat ini. Berbagai pendapat
mengenai keabsahan dari kekristenan bergantung pada bukti kebangkitan Isa orang
Nazaret. MENGAPA ANDA PERCAYA Kebangkitan Kristus adalah pusat iman seorang Kristen. Ada beberapa alasan mengapa mereka yang mempelajari kebangkitan, percaya bahwa itu benar :
KUBUR YANG KOSONG:
Kedua, kebangkitan adalah satu-satunya penjelasan yang masuk akal aatas
kuburan-Nya yang kosong. Pembacaan yang cermat pada cerita Alkitab menunjukkan
bahwa kuburan dimana mereka membaringkan tubuh Isa dijaga dengan ketat oleh
prajurit-prajurit Roma dan ditutupi oleh batu yang sangat besar. Jika Isa tidak
mati tetapi hanya menjadi lemah (setelah mati suri), seperti yang dikatakan oleh
beberapa orang, para penjaga dan batu tersebut akan menghalangi pelarian-Nya.
Berbagai usaha penyelamatan yang dilakukan oleh para pengikut-Nya pun tidak akan
dapat dilakukan. Sementara itu musuh-musuh Isa tidak akan menyembunyikan tubuh
Isa karena tubuh-Nya yang hilang dari kubur hanya akan menguatkan kepercayaan
akan kebangkitan-Nya.
Keajaiban
Itu Terus Terjadi
Sejak zaman Yesus hingga sekarang mukjizat-mukjizat terus berlangsung. Hanya saja terkadang manusia kurang peka. MILLVINA Dean baru berumur sembilan pekan ketika Titanic, kapal pesiar mewah bermesin uap milik Inggris yang ia tumpangi bersama orangtuanya, menabrak sebuah gunung es sekitar 150 kilometer arah selatan Grand Banks of Newfoundland, Kanada, pada 14 April 1912. Laut Atlantic yang ganas telah membuat kapal itu karam dan tenggelam dalam perjalanan perdananya dari London menuju New York. Selama beberapa jam tubuh mungil Millvina hanyut di tengah laut yang begitu dingin. Ternyata bayi yang baru bisa menangis itu sungguh mengalami keajaiban. Ia selamat! Hal yang sangat sulit dibayangkan bisa terjadi pada bayi merah yang masih tak berdaya. Padahal musibah laut terburuk di sepanjang sejarah manusia itu telah menewaskan 1513 penumpangnya. Keajaiban yang dialami Millvina Dean itu, bila dilihat dari kaca mata iman, bisa disebut sebagai suatu mukjizat. Mukjizat yang sesungguhnya masih terus terjadi sejak zaman Yesus hingga sekarang. Dalam bukunya I Believe in Miracles, Kathryn Kuhlman mengemukakan, “Pada zaman modern yang bergerak pesat ini, mukjizat-mukjizat tetap terjadi setiap hari dalam kehidupan manusia. Hanya manusia saja yang kerap tidak memperhatikan atau menganggapnya sebagai sesuatu yang sudah semestinya terjadi.” Bencana Estonia Tenggelamnya kapal Titanic yang sangat menghebohkan, bahkan hingga saat ini masih menjadi bahan penyelidikan, masih disusul dengan musibah?musibah laut lainnya. Di antaranya, musibah dahsyat yang menimpa Feri Estonia dalam perjalanannya dari Estonia menuju Stockholm, September 1994. Kapal buatan Jerman yang sudah 14 tahun melaut ini menyongsong maut di Laut Baltik saat badai tengah bergelora hingga menimbulkan gelombang sekitar 7 meter. Lebih dari delapan ratus penumpangnya tewas. Tapi musibah laut itu tidak merenggut nyawa semua penumpangnya. Nyawa mereka yang selamat seperti warga Inggris Paul Barney, 34 tahun, bisa dikatakan sebagai nyawa saringan. Sulit membayangkan bagaimana mereka bisa bertahan hidup di tengah amukan badai yang begitu ganas, di tengah malam yang gelap gulita. “Saya bersama delapan penumpang lainnya berhasil masuk ke dalam sebuah sekoci penolong. Namun beberapa saat sebelum pertolongan datang, gelombang menghempas kami semua. Saya sempat meraih kembali sekoci yang terbalik, tetapi delapan orang lainnya hilang,” kisah Barney. Antara percaya dan tidak, Barney melihat ada semacam cahaya pada malam itu yang bisa menunjukkannya posisi sekoci. Barney segera berenang sebisanya mendekati sekoci. Setelah itu semua terasa gelap kembali. Padahal gelombang yang ganas sempat tiga kali menghempaskannya ke laut yang sangat dingin dan bergelora. Kesulitan mengatasi amukan gelombang untuk meraih sekoci atau perahu karet penyelamat juga dialami Eero Kippa. Ketika mendengar mesin feri mendadak mati ia segera berlari menuju dek atas. Padahal di tangga maupun koridor feri ada begitu banyak orang panik yang saling berebut mencari pertolongan. Tanpa berpikir dua kali Kippa melompat ke laut. Perjuangan yang hampir mustahil terjadi saat itu. Ia berjuang selama beberapa menit untuk bisa mencapai sekoci, namun sangat sulit karena laut penuh gelombang. “Saya terjatuh lagi. Untung ada seorang pemuda Swedia yang membantu menarik tubuh saya hingga bisa memasuki sekoci,” kenangnya. Ternyata Kippa masih belum aman. Mendadak datang lagi sebuah gelombang besar membanting sekoci karet yang ia tumpangi. Kippa sempat berpegang erat, tetapi pelampung dan jaketnya hilang tersapu. Ia tak sadarkan diri. Ketika Kippa sadar, sekitar setengah dari penghuni sekoci karet tersebut telah lenyap. Penumpang lainnya yang selamat adalah Maergus Kermet. Ia terbangun dari lelap ketika feri berguncang. Ia langsung lari ke dek enam. Panik luar biasa mencengkeram perasaannya. Apalagi ketika 10 sekoci penyelamat tidak bisa diturunkan karena gelombang yang begitu tinggi. Perahu karet yang ada kemudian dilemparkan ke laut. “Hanya sedikit penumpang yang berhasil berenang dan memanfaatkannya,” kisahnya. Di antara bencana yang demikian dahsyat, di saat kemungkinan selamat sedemikian kecil tetap saja ada hal-hal yang rasanya mustahil terjadi, sungguh-sungguh terjadi! Inilah misteri kehidupan yang sulit dipahami. Tak disangkal Dalam hidup ini memang kerap terjadi berbagai peristiwa yang terbilang ajaib. Sebagian orang menganggapnya sebagai mukjizat, sebagian lainnya menganggapnya sebagai hal yang lumrah atau bahkan melecehkannya. Apapun yang terjadi, seperti ungkap Kuhlman, mukjizat tetap ada. Tinggal bagaimana manusia mengimaninya. Keajaiban juga kerap terjadi di tengah deraan penyakit. Kendati banyak penya-kit telah menghantar manusia pada maut, namun tak sedikit orang yang mengalami keajaiban: sembuh dari penyakit parah! Menurut Kuhlman, kesembuhan bagaimanapun juga berasal dari Allah. Dokter bisa memberikan diagnosa. Mereka dapat memberikan pengobatan dan perawatan yang terbaik bagi pasien-pasiennya. Tetapi pada akhirnya kuasa Allah yang Ilahi yang mampu menyembuhkan. Seorang dokter memiliki kemampuan dan kecakapan untuk membetulkan tulang yang patah, tetapi ia perlu menantikan kuasa Ilahi untuk menyembuhkannya. Seorang ahli bedah dengan lihai dapat membedah pasien sambil menerapkan semua keahlian dan ketrampilannya. Namun ia tetap harus menantikan kuasa yang lebih tinggi yang melakukan penyembuhan yang sebenarnya. Kuhlman menasihati, “Jika Anda sakit dan belum menerima karunia percaya akan mukjizat-mukjizat, carilah pertolongan dokter yang sebaik mungkin, dan berdoalah supaya Allah berkenan bekerja melalui dokter itu. Sesudah itu Anda dapat menunggu Allah mengerjakan penyembuhan yang sebenarnya. Kuasa Allah untuk menyembuhkan adalah fakta yang tak dapat disangkal dengan atau tanpa bantuan manusiawi.” Salah seorang warga Lingkungan Santo Mikael, Drg Irene yang baru saja menderita sakit cukup parah, merasakan hal serupa. Dengan imannya, ia yakin Tuhan akan menyembuhkan penyakitnya. Maka, setelah berobat di Singapura selama sekitar empat bulan, ia kembali ke Tanah Air dengan keadaan yang memulih. Melampaui pemahaman Sesungguhnya setiap hari di muka bumi ini terjadi beragam peristiwa ajaib yang dianggap biasa oleh kebanyakan orang. Semisal peristiwa kelahiran bayi. Ahli kebidanan tenar dari Pittsburgh Amerika Serikat, Dr. Charles Joseph Barone berpendapat, sesungguhnya kelahiran seorang bayi adalah mukjizat terbesar. Barone yang telah membidani lebih dari 25.000 bayi mengatakan, kelahiran manusia sesungguhnya melampaui pemahaman manusia. Ini merupakan salah satu dari rahasia-rahasia dan perkara suci yang telah merangsang keingintahuan dan kekaguman manusia. “Peristiwa kelahiran tetaplah merupakan suatu rahasia yang tidak dapat dipahami.” Barone mengungkapkan, penyelidikan ilmu mudigah (bakal anak) dari satu sel manusia menjadi tanda-tanda manusia, yakni tanda-tanda yang akan menjadi mata atau jantung atau kaki atau hidung atau bibir, dsb merupakan hal yang juga melampaui pemahaman manusia. “Saya yakin, itu semua berasal dari Allah.” Kuhlman juga mengakui keajaiban bayi yang baru lahir. Tidak ada petunjuk yang pernah diberikan kepada mereka. Walau demikian tiap-tiap bayi yang masih mungil itu tahu dengan tepat apa yang harus ia lakukan untuk memuaskan keinginannya. Karunia Allah Dengan keteguhan imannya Kuhlman menandaskan bahwa Roh Kudus merupakan kunci terjadinya suatu mukjizat. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Jawaban ini sesungguhnya demikian sederhana sampai-sampai banyak orang ‘buta’ dan ‘tuli’ terhadap-Nya. “Bagaimanapun juga kebesaran Allah melampaui pengertian manusia. Tak ada manusia yang dapat menduga berapa dalam dan luas kuasa-Nya.” Tetapi manusia acapkali terlalu mengarahkan pandangannya pada keadaan: masalah-masalah yang mereka hadapi, kelemahan-kelemahannya maupun penyakitnya. Padahal ini keliru. “Jalan yang justru akan mengalahkan manusia dalam hidupnya adalah terlalu memusatkan pikiran dan perhatian pada diri sendiri.” Yesus berkali-kali menandaskan pentingnya iman pada orang yang memohon kesembuhan atau penglihatan kepada-Nya. “Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkanmu!” Seketika itu juga melihatlah orang buta itu. Menurut Kuhlman, iman dan anugerah memiliki hubungan yang begitu rupa sampai keduanya tak dapat dipisahkan. Keduanya merupakan karunia Allah. “Bukan iman yang harus Anda cari, melainkan Yesus. Pemberi tiap-tiap karunia yang baik dan sempurna adalah Dia yang mengadakan dan menyempurnakan iman kita.” Sampai hari ini terus terjadi berbagai peristiwa yang sesungguhnya ajaib. Hanya saja sering manusia kurang peka menanggapinya. Inilah misteri kehidupan yang sulit dijangkau oleh pemahaman manusia! (Maria Etty)
Kelebihan
Yesus: Solidaritas
Oleh dr. Marie Gabriele Tan S. Yen. Tulisan ini muncul sebagai hasil decakan kagum akan khotbah salah seorang pastor praja dalam suatu hari raya gereja. Entah kenapa, khotbah itu akhirnya membangkitkan perasaan haru dan “kasihan” (atau... apa ya?) pada Yesus. Bukan hal yang baru lagi, seandainya kita mendengar komentar sinis tentang penghayatan iman kita pada Kristus. Tapi sialnya, komentar sinis itu kadang-kadang menggelitik murid-Nya juga, yang dengan catatan sedang “lesu darah”. Orang Katolik dikenal asik dengan hal-hal yang membuat sedih dan sengsara. Misa pun dimulai dengan penyesalan diri alias tobat. Belum lagi ritus jalan salib. Via Dolorosa. Apalagi di Philipina, perayaan Jumat Agung nyaris seperti adegan kesengsaraan yang paling mentok menjelang dunia kiamat. Belum lagi kita senantiasa diberi petuah bahwa hidup ini sebenarnya salib yang harus dipanggul kemana-mana. Tawa orang yang sinis tadi makin nyaring, kok kalian masih betah sich dengan agama yang model gitu? Beberapa orang terkesiap. Dan muncullah sekte-sekte yang gegap gempita menyerukan kehebatan-kehebatan Kristus, mirip pengharapan orang Yahudi Perjanjian Lama. Dan satu per satu beberapa pengikut sekte itu pun rontok karena akhirnya mereka “mentok” lagi pada kekecewaan. Kristus lahir bukan untuk menciptakan agama Katolik. Seorang umat buta huruf di suatu desa pernah menggambarkan untuk apa Kristus itu datang. Sederhana sekali, Ia hadir sebagai tanda, bahwa saya punya teman. Bahwa saya disayang dan dicintai Gusti Allah. Sebenarnya, segala kesedihan, kekecewaan dan kesengsaraan bukan berasal dari Allah, ini suatu hal yang melandasi iman kepercayaan kita. Atas dasar itu pula maka seandainya kita mengalami kesusahan tentu sebagai akibat perbuatan manusia sendiri (kita, atau sesama!). Lucunya, agama yang dianggap “berhasil” adalah agama yang mampu mengentaskan manusia dari kesusahan itu! Dan alhasil manusia berlomba jual kecap tentang agamanya masing-masing. Tentu saja, promosi model begini tidak laku. Mengapa? Karena tidak menjawab masalah, bukan alternatif penyelesaian. Ibaratnya penyakit batuk pilek diobati dengan tablet diare. Kemudian tokoh Yesus pun muncul. Dengan serta merta Ia mau menemani manusia dengan segala keluh kesahnya. Sampai akhirnya manusia itu “nglunjak” alias keterusan. Dan ditumpahkannyalah semua pada diri Yesus. Kalau terasa Yesus tidak bereaksi (dibaca: kesulitan manusia tidak teratasi), maka manusia kecewa dan marah-marah atau bingung, apa iya toh, iman saya kurang, makanya Yesus “diam-diam saja”? Ah manusia. Bukan Yesus yang bikin masalah, eee..., malah Yesus itulah yang dikejar-kejar, diberi “PR” untuk menyelesaikan masalahnya. Kristus adalah tokoh solidaritas yang tak ada bandingnya. Bisa saja toh, Ia mengibaskan tangan-Nya, karena bukan berasal dari dunia sini. Tapi Ia tidak setega itu. Dia ikut menangis dengan kita. Bahkan Dia berpesan secara tersirat, bahwa kesengsaraan itu sebenarnya bagian dari hidup yang patut dipelajari (bukan dinikmati!), paling tidak begitulah seharusnya kita melihat kematian-Nya sendiri. Manusia tak boleh jemu belajar. Termasuk belajar menghayati pengharapan yang benar. Ia sendiri dengan gamblang menunjukkan akibat dari pengharapan yang salah, gaya orang Yahudi dalam Perjanjian Lamanya, mengharapkan seorang “Saviour”, Penyelamat, yang mentereng datang sebagai Raja Manusia. Dan orang Yahudi itu sedemikian kecewanya melihat Yesus yang papa. Akhirnya pengharapan salah ini harus dibayar mahal lewat kematian-Nya. Orang Katolik memang sarat Liturgi. Karena kita masih perlu belajar terus. Liturgi bukanlah ritus kepercayaan yang rutin dan mati. Liturgi adalah dinamika hidup, penuh irama dan gerak seperti layaknya suatu operette. Indah untuk diikuti, karena Kristus sendiri Sang Gurunya. Dan kehebatannya itu semakin nyata karena dalam irama tobat dan ritme kisah sengsara, Ia mengajarkan lirik cinta kasih dan solidaritas. Bravo!
Makna Cinta
1. Jangan tertarik kepada
seseorang karena parasnya,
sebab keelokan paras dapat
menyesatkan. Jangan pula
tertarik kepada
kekayaannya karena kekayaan dapat musnah. Tertariklah kepada seseorang yang
dapat membuatmu tersenyum, karena hanya senyum yang dapat membuat hari-hari yang
gelap menjadi cerah. Semoga kamu menemukan orang seperti itu.
Melihat "Wajah
Kristus"
Oleh dr. Marie Gabriele Tan S. Yen Tulisan ini tidak bermaksud untuk menceritakan pengalaman seseorang yang pernah melihat “wajah Kristus / Yesus” sebagaimana yang mungkin anda bayangkan. Jadi jangan kecewa, seandainya setelah selesai membaca ternyata kita tidak diberi gambaran apakah Kristus punya jerawat atau alisnya lebat atau bibirnya tipis karena terlalu capek berkotbah dan menceritakan perumpamaan. Dalam kehidupan, cukup banyak (masih banyak) orang Kristiani yang begitu haus ingin tahu siapa sih “Nabi Agung”, “Anak Allah”, Tuhan yang memanusia” dan disembah itu. Pelbagai cara diupayakan. Dari “yang masuk akal” dan bisa diterima orang banyak, hingga yang sulit dicerna akal sehat. Dari meditasi dan perbanyakan doa gaya rahib Karmel, sampai usaha “setengah maksa” agar “kekuasaan Ilahi” turun atas perbuatan-perbuatan tertentu yang direkayasa manusia. Namun untuk mengenal “wajah Kristus” ada suatu ketidaksengajaan yang justru bisa dan mudah dialami manusia. Cara itu hadir melalui jalur yang begitu unik, pribadi, menyentuh dan mesra dalam diri seseorang. Dia tampil menampakan diri perlahan demi perlahan, seperti kabut gunung yang turun menjelang senja. Kristus hadir saat kita tak berdaya, memasrahkan diri dan tenang mempercayakan segalanya dalam genggam-Nya. Mungkin saat ini kita sendiri merasa “kasep” (terlanjur), menghadapi jalan buntu, dan akhirnya mengeluh, “Ya Allah, mengapa tidak dari dulu saja aku memasrahkan diri pada-Mu?” Kristus memperlihatkan diri-Nya dalam kepapaan, bukan hanya kepapaan orang lain (yang kita anggap miskin, sengsara, dsb) tapi juga dalam kepapaan KITA. Apakah kita pernah merasa menjadi orang papa yang tak berdaya? Orang papa yang tertimbun malang tak berkesudahan dan keresahan menghadapi dunia? Yang lebih sering terjadi, justru kita merasa “masih belum papa”, kita penuh enerji, berdaya juang dan berkeras hati untuk mengatasi segala sesuatunya dengan ikhtiar kita, sesuai rencana kita, sesuai kehendak hati. Memang, terjadi kesulitan untuk membedakan antara manusia yang optimis, berdaya juang dengan manusia yang begitu “gemar” hanya mendengarkan optimisme-nya saja dan terlalu sedikit memberi kesempatan bagi Allah untuk berkarya atau campur tangan dalam rencana hidupnya. Kerap kali orang-orang yang memasrahkan diri dianggap sebagai manusia malas, mudah putus asa dan tidak cerdas. Novena pun seringkali diejek sebagai upaya mengatasi jalan buntu dengan merengek-rengek pada Bunda Maria seperti anak ayam kurang makan. Bahkan lebih sinis lagi, kedekatan pada Kristus dan BundaNya saat susah dianggap sebagai “obat penenang tradisional” yang sangat sugestif, sekedar meredakan rasa gundah, takut, cemas dan stress. Dan inilah tantangan. Manusia cerdas, hidup di metropolitan yang penuh tantangan, kerap menjadi “bandel” dengan sapaan Allah, kerap sulit menemukan waktu untuk menatap lilin bernyala di tengah malam sambil menggenggam jemari orang yang dikasihinya dan berkata, “Tuhan, kami pasrahkan semuanya pada-Mu, karena rencana-Mu lebih bagus dan pasti “jadi” ketimbang rencanaku yang penuh spekulasi dan sarat pertimbangan pribadi”. Kristus yang sebenarnya tidak hadir dalam kehura-huraan dan kekayaan kita menguasai dunia. Yesus pun sebetulnya sedih ketika Ia disambut di gerbang Yerusalem dengan lambaian palma dan dielu-elukan bagai “raja” seperti gambaran orang Yahudi dahulu (dan mungkin kita juga sekarang): raja dengan wilayah kekuasaan, berhak memberi titah dan perintah, mempekerjakan sekian hamba (pokoknya adil), dan seterusnya. Kristus hanya tersenyum dan turut bahagia melihat keberhasilan kita, tetapi dalam senyumnya Ia sekali lagi meminta agar manusia tidak larut dalam kesenangan itu – Ia masih meminta sedikit waktu agar manusia melihat kembali kepapaannya dan merasakan bahwa Ia hadir. Sehingga Ia tidak perlu lagi mengajarkan bagaimana merasakan kehadiran-Nya lewat kejadian tragis penuh isak tangis menyesali sesuatu yang memang sudah “kasep”. Melihat wajah-Nya, merasakan kehadiran-Nya, menjadi pengalaman iman yang manis dan kuat menyatu dalam hidup. Karena dari itu semua cinta hadir dalam ujud yang jelas, mempunyai makna yang terang dan manusia tidak mudah tercabut dari akarnya, sebab ia sudah tahu: kepada siapa ia harus percaya.
Memikat
Hati Tuhan
oleh drg. Irene "Apakah yang dimintakan dari padamu oleh Tuhan Allahmu selain takut akan Tuhan Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkanNya, mengasihi Dia, beribadah kepada Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, berpegang pada perintah dan ketetapan Tuhan yang kusampaikan kepadamu hari ini, supaya baik keadaanmu. Sesungguhnya Tuhan Allahmulah yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit dan bumi dengan segala isinya; tetapi hanya oleh nenek moyangmulah hati Tuhan terpikat sehingga Ia mengasihi mereka dan keturunan merekalah, yakni kamu yang dipilih dari segala bangsa, seperti sekarang ini, sebab itu sunatlah hatimu dan jangan lagi kamu tegar tengkuk. Dialah pokok puji-pujianmu dan Dialah Allahmu yang telah melakukan di antaramu perbuatan-perbuatan yang besar dan dahsyat, yang telah kau lihat dengan matamu sendiri" (Ulangan 10: 12-16, 21). Apakah telah terpikir oleh kita, bagaimana agar Tuhan peduli dan menyayangi, yakni dengan memikat hati Tuhan, seperti tokoh-tokoh dalam Alkitab yaitu Daud dan Abraham? Mari kita selidiki bersama-sama, bagaimana cara memikat hati Tuhan 1. Dengan taat kepada Tuhan dan membuat Mezbah bagi Tuhan (Kejadian 12: 1-2) Berfirmanlah Tuhan kepada Abraham, "pergilah dari
negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah Bapamu ke negeri yang akan
Kutunjukkan kepadamu. Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar dan
memberkati engkatu serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat".
2. Dengan damai sejahtera (suka berdamai) Kejadian 13: 8-9: "Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau....". Kalau ada orang Kristen hidup tidak menurut firman Allah, bisa kaya tetapi hati tidak tenteram, tidak bahagia. Satu negara tidak dapat maju kalau ada peperangan, tidak ada damai, kalau orang suka ribut, sial, saraf tegang, karena saraf tegang pikiran tidak tenang, rejeki hilang. Kalau dalam rumah tangga ada damai, masyarakat sekitar damai, negara damai. 3. Memberikan persepuluhan Menurut opini Maya Febri pada WM edisi 10, April 2000, Tuham memang menghendaki persembahan persepuluhan namun harus disertai kasih. Saya sangat setuju, berdasarkan hukum kasih menurut rasul Paulus: 1 Kor 13: 4-8: Kasih itu murah hati, ia tidak cemburu, ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersuka cita karena ketidakadilan, tetapi bergembira karena kebenaran, ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menunggu segala sesuatu. Persembahan persepuluhan ini memang milik Tuhan, karena kita menerima semua berkat itu dari Tuhan dan kita jangan mencurinya. Harus kita berikan kembali kepada Tuhan. Marilah kita lihat Maleakhi 3: 10: "Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumahKu dan pujilah Aku, firman Tuhan semesta alam. Apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan". Itulah janji Tuhan kalau kita taat memberikan 1/10 saja dari semua berkat Tuhan itu. 4. Takut akan Tuhan Kejadian 22: 1-2: Abraham dicobai Tuhan untuk
mempersembahkan Ishak anaknya sebagai korban bakaran. 5. Berdoa Syafaat (berdoa untuk keselamatan orang lain) Kejadian 18: 22-23: Tuhan akan melenyapkan Sodom
dan Gomora tetapi Abraham melakukan doa syafaat untuk saudaranya Lot. Orang yang berdoa syafaat hadir dalam dewan musyawarah Tuhan dan akan didengar doanya dari tempat tinggi.
Mencintai
Banyak Orang
Kita boleh bangga karena memiliki pemimpin iman yang bersedia berkaul tidak menikah. Mengapa bangga? Jawaban yang sangat manusiawi adalah karena tidak banyak orang yang mau hidup tanpa menikah demi orang lain. Ini sulit dan mungkin bodoh bagi sebagian orang. Mungkin juga ada yang menyatakan bahwa ini melanggar kodrad manusia yang hidup berpasang-pasangan dan harus beranak cucu sesuai Kitab Kejadian 1: 27-28. Jika kita buka Kitab Matius 19: 12, kita akan membaca kutipan perkataan Yesus: Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti. Ayat ini membuat saya menjadi lebih bangga sebagai orang yang dipimpin oleh pemimpin yang tidak menikah karena Kerajaan Allah. Sebagai awam, logika yang dapat saya kembangkan adalah logika yang berhubungan dengan perhatian dan prioritas. Saya ingat ketika saya belum menikah. Saat itu banyak sekali waktu yang dapat digunakan untuk berbuat apa saja 'semau saya' (secara positif) tanpa banyak orang lain yang saya pertimbangkan. Saya dapat ikut kegiatan apa saja yang diadakan baik oleh Mudika, Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK), Legio Mariae, dan kegiatan lingkungan atau kegiatan kampus. Asal saya senang, saya akan ikut. Setelah menikah apalagi punya anak, saya harus 'tahu diri' sehingga mulai membatasi dan membagi waktu karena memiliki tanggung jawab keluarga. Saya tidak hanya memperhatikan diri saya lagi. Saya tidak bisa hanya mencari kesenangan saya sendiri sehingga mengorbankan keluarga. Perhatian dan prioritas saya berubah menjadi bukan pada orang lain melainkan pada diri sendiri dan keluarga. Saya 'bekerja' sebagian besar untuk keluarga. Cinta ternyata menjadi 'kunci' mengupas masalah ini. Di saat seseorang bebas untuk mencintai siapa saja tanpa berharap balasan untuk dicintai, saat itu ia bebas berbuat baik sebaik-baiknya kepada siapa saja. Namun saat ia telah memilih satu atau beberapa orang untuk dicintai dengan harapan ia akan memperoleh balasan dicintai, ia menjadi sulit untuk mencintai lebih banyak orang. Yesus menjadi teladan cinta yang saya kagumi. Ia tidak mencintai orang lain demi diri-Nya. Bahkan Ia juga tidak 'cinta' pada diri-Nya. Ia rela mati untuk orang-orang yang dicintai-Nya, untuk banyak orang yang belum tentu mencintai-Nya. Yesus telah berhasil mencintai banyak orang tanpa mengharapkan imbalan cinta. Karena itu kita percaya hati-Nya bersih. Pemimpin atau gembala yang kita miliki dalam Gereja Katolik juga sosok yang 'berharap' dapat mencintai lebih banyak orang. Oleh karena itu mereka bersedia berkaul tidak menikah atau hidup selibat agar dapat bekerja untuk banyak orang, bukan untuk keluarga dan diri mereka. Di sisi lain, saya mengakui bahwa 'penggilan' agar dapat mencintai banyak orang tanpa pamrih adalah panggilan mulia. Panggilan jenis ini sulit ditemukan, karena itu kita bersama perlu mengupayakannya. Gereja kita sedang kesulitan (krisis) panggilan. Kita perlu terus berdoa dan mungkin dapat mulai memupuk benih dari keluarga atau lingkungan kita. (Hendry Tiono)
Mencontoh
Mogok Makan?
Jika seseorang ingin doanya dikabulkan, ia berdoa sambil melakukan puasa dan mati raga. Inikah makna puasa yang sesungguhnya? Warta Mikael Edisi 31 mencoba menggali makna puasa dalam kehidupan Gereja Katolik dalam Berita Utama. Masa Prapaskah telah biasa kita jalani. Pada masa ini kita diharapkan dapat mempersiapkan diri merayakan ‘kemenangan’ Kristus dengan masa pertobatan. Dalam menjalani masa Prapaskah kita mengenal istilah pantang dan puasa. Banyak di antara kita menjalaninya hanya sekadar ‘ikut’ kebiasaan. Secara umum, di luar masa Prapaskah pun beberapa orang sering melakukan puasa untuk tujuan-tujuan tertentu. Namun sayang beberapa di antaranya melakukan puasa dengan gigih agar doanya dikabulkan. Cara ini menurut saya mirip dengan aksi mogok makan yang dilakukan mahasiswa di depan gedung MPR, yang hendak memaksa pemerintah memenuhi keinginannya. Maaf, bukan bermaksud menyinggung. Doa dengan berpuasa adalah baik jika dimaksudkan untuk lebih membersihkan hati dan mengendalikan diri. Tetapi bukan supaya doanya lebih manjur dan mudah dikabulkan. Ini berarti memaksakan kehendak kita kepada Tuhan. Dalam Matius 4: 1-11 dikisahkan setelah Yesus ‘dinobatkan’ oleh Roh Kudus sebagai Putra Allah, Ia dibawa ke padang gurun berpuasa 40 hari untuk dicobai Iblis . Ketika iblis memintanya menjatuhkan diri agar malaikat-Nya dapat menatang-Nya, Ia menjawab agar ‘tidak mencobai Allah’. Bacaan ini memberi contoh agar tidak menggunakan puasa untuk meminta pada Allah melakukan pertunjukan (show) kekuasaan-Nya. Beberapa ayat dalam Kitab Bilangan (29: 7; 30: 13) dan Imamat (16: 29, 31; 23: 27, 29, 32) juga menyebutkan puasa sebagai lambang untuk merendahkan diri, bukan meninggikan diri sehingga dengan berpuasa seakan-akan kita berhak atas permintaan apa saja. Dari ayat-ayat Kitab Suci yang menyebutkan hal berpuasa, didapat makna puasa sebagai pendukung suasana doa agar manusia dapat lebih dekat dengan Allah. Manusia menjadi lemah saat berpuasa. Dengan demikian ia dapat merasakan betapa besar dan pentingnya Allah dalam hidupnya. Di sisi lain, ia juga dapat merasakan apa yang dirasakan sesama manusia yang hidup berkekurang-an. Beberapa contoh kehidupan berpuasa dari tiga biara besar yang ada di negara kita mungkin dapat memberi gambaran bagaimana selayaknya umat Katolik menjalankan puasa. (Hendry Tiono)
Mengapa Kita Menghormati Bunda Maria? Sepanjang bulan Mei, Gereja meminta kita untuk memberi perhatian secara lebih istimewa kepada Santa Perawan Maria, Bunda Allah. Bunda Maria sangat berarti bagi kita karena beberapa alasan: MARIA, GADIS
YAHUDI Jadi keluarga Maria pindah beberapa mil jauhnya ke Nazareth, sebuah dusun kecil yang berpenduduk hanya 150 hingga 300 orang. “Nazareth” dalam bahasa Ibrani mempunyai dua arti yang berbeda. Nazareth bisa berarti “lili, bunga bakung” yang merupakan simbol kehidupan, dapat juga berarti “keturunan”. Keluarganya berasal dari keturunan Raja Daud. Baik itu artinya bunga bakung ataupun keturunan, Nazareth adalah nama yang indah bagi tempat tinggal Maria. Di sanalah Maria bertemu dengan Yusuf, seorang tukang kayu. Kemungkinan Yusuf tidak jauh lebih tua dari Maria. Mereka pun bertunangan. Biasanya, masa pertungangan berlangsung selama satu tahun atau lebih. Si gadis akan menenun dan melakukan pekerjaan rumah tangga, sementara sang pria akan membangun rumah tempat tinggal mereka. Kisah selanjutnya kita baca setiap tahun pada hari Natal. MARIA, BUNDA
ALLAH MARIA, BUNDA KITA
sumber : Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Richard Lonsdale.” ------------ ------------- Mengapa Umat Katolik Berdoa kepada Santa Perawan Maria ? Banyak orang non-Katolik
telah diajari sedari kecil untuk meyakini bahwa salah satu bukti nyata akan
ketidakbenaran ajaran Katolik dapat dilihat dalam penghormatan yang disampaikan
kepada Santa Perawan Maria dalam Gereja Katolik, dan dalam begitu banyaknya doa
yang dengan penuh kepercayaan disampaikan kepada Bunda Maria oleh umat Katolik.
1.
MARIA ADALAH BUNDA ALLAH.
2.
MARIA ADALAH BUNDA SELURUH UMAT MANUSIA.
Jika ibunda-Nya itu adalah Bunda bagi Diri-Nya Sendiri, pastilah Ia membebaskannya dari penderitaan, oleh sebab Ia mempunyai kuasa untuk melakukannya dan karena Ia mencintai Bunda-Nya dengan kasih yang tak terbatas. Ia mengadakan mukjizat-Nya yang pertama di hadapan publik atas permintaan Bunda-Nya, dan menjelang ajal-Nya, Ia mengingatkan Bunda-Nya bahwa ia telah dipersiapkan sejak dari semula untuk menjadi bunda bagi seluruh umat manusia. Oleh karena itu, Katolik percaya bahwa Maria pastilah dengan antusias menolong mereka, dalam pencobaan jiwa maupun badan, seperti layaknya seorang ibu dengan antusias mengusahakan kesejahteraan bagi anaknya. Rosario yang didaraskan umat Katolik merupakan ungkapan kepercayaan mereka terhadap kedua kebenaran di atas. Umat Katolik yakin bahwa jika Maria berbicara kepada Putra Ilahi-nya bagi mereka, tak perlu diragukan lagi mereka pasti akan menerima jawab atas doa-doa mereka. Imprimi Potest: John N. McCormick, C.SS.R. Provincial, St. Louis Province Redemptorist Fathers, May 2, 1960 Imprimatur: + Joseph E. Ritter, Archbishop of St. Louis, May 5, 1960 sumber : “Why Catholics Pray to the Blessed Virgin Mary”; www.catholictradition.org Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic Tradition.”
Misa Kudus dan Kitab Wahyu Dari segala hal seputar iman Katolik, tidak ada hal lain yang lebih kita kenal lebih daripada Misa Kudus. Dengan doa-doa yang sudah sangat tua usianya, himne-himne, posisi kita pada waktu Misa, Misa Kudus seperti layaknya kita di rumah sendiri. Akan tetapi banyak sekali umat Katolik menghabiskan seumur hidupnya tanpa mampu melihat lebih daripada mengucapkan doa-doa yang sudah dihafalkan. Sangat sedikit sekali dari umat Katolik bisa mengintip DRAMA SUPERNATURAL yang LUAR BIASA sewaktu mereka mengikuti ritual Misa Kudus setiap hari Minggunya. Sri Paus Yohanes Paulus II menyebutkan bahwa Misa Kudus adalah "Surga di bumi", sambil menjelaskan bahwa "liturgi yang kita rayakan di bumi adalah partisipasi yang misterius dari liturgi surgawi." Misa Kudus begitu sangat kita kenal. Di lain pihak, Kitab Wahyu tampak asing dan penuh teka-teki. Halaman demi halaman mengisahkan gambaran-gambaran yang menyeramkan: peperangan, wabah penyakit, binatang-binatang dan malaikat-malaikat, sungai darah, katak jadi-jadian, dan naga berkepala tujuh. Dan figur yang paling baik adalah anak domba yang bertanduk tujuh dan bermata tujuh. "Kalau ini baru kulitnya saja", demikian sebagian umat Katolik berkata, "Saya rasa saya tidak ingin melihat lebih jauh." Dalam buku ini, saya ingin menawarkan sesuatu yang sangat sulit dicerna. Saya akan mengatakan bahwa KUNCI untuk memahami Misa Kudus tidak lain adalah Kitab Wahyu, dan lebih jauh lagi, bahwa Misa Kudus adalah SATU-SATUNYA cara umat Kristen bisa memahami isi Kitab Wahyu. Kalau anda tidak percaya, anda mesti tahu bahwa anda tidak sendirian. Ketika saya mengatakan kepada seorang teman bahwa saya sedang menulis tentang Misa Kudus sebagai kunci (untuk memahami) Kitab Wahyu, dia tertawa dan berkata, "Kitab Wahyu? Itu kan cuma berisi hal-hal yang aneh." Memang tampak aneh bagi umat Katolik, karena selama bertahun-tahun, kita telah membaca kitab ini secara terpisah dari tradisi Kristen. Interpretasi-interpretasi yang dikenal oleh banyak orang sekarang ini adalah interpretasi-interpretasi yang masuk halaman utama surat kabar atau daftar buku terlaris, dan interpretasi-interpretasi itu nyaris seluruhnya berasal dari Protestanisme. Saya tahu ini dari pengalaman saya pribadi. Saya telah mempelajari Kitab Wahyu selama lebih dari dua puluh tahun. Sampai dengan tahun 1985, saya mempelajarinya dengan kedudukan saya sebagai pendeta suatu denominasi Protestan, dan sepanjang tahun-tahun itu, saya terlibat, secara bergiliran, dengan berbagai teori-teori penafsiran yang populer maupun tidak populer. Saya mencoba setiap kunci, tetapi tidak satupun yang bisa membuka pintu. Sekali-sekali saya mendengar suara klik yang membawa harapan. Akan tetapi baru ketika saya mulai merenungkan Misa Kudus saya merasakan bahwa pintunya telah mulai membuka, sedikit demi sedikit. Secara bertahap, saya menemukan diri saya diliputi oleh tradisi Kristen yang luar biasa, dan pada tahun 1986 saya diterima dalam persekutuan yang penuh di Gereja Katolik. Setelah itu, dalam riset saya menyangkut Kitab Wahyu, berbagai hal-hal menjadi lebih jelas. "Kemudian dari pada itu aku melihat: Sesungguhnya sebuah pintu terbuka di sorga..." (Wahyu 4:1). Dan pintu itu membuka menuju......Misa Kudus mingguan di paroki setempat! Nah sekarang mungkin anda menjawab bahwa pengalaman mingguan yang anda alami pada waktu Misa berlangsung sama sekali tidak bersifat surgawi. Bahkan, satu jam itu adalah saat-saat yang tidak nyaman, yang diisi oleh bayi-bayi yang menangis, lagu-lagu yang dinyanyikan secara sumbang, orang-orang yang mondar-man | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||